GIANESIA.COM – MANILA, 28 JANUARI 2026 – Dunia seni pertunjukan Asia mencatat sejarah baru dengan dibukanya Asia Butoh Gathering (ABG) 2026, festival tari Butoh pertama berskala Asia yang menghadirkan para seniman, akademisi, dan praktisi seni tubuh dari berbagai negara di kawasan. Festival ini menjadi sorotan media internasional karena menghadirkan ruang pertemuan lintas budaya untuk mendiskusikan perkembangan seni Butoh dalam konteks Asia kontemporer .
Diselenggarakan di Manila, Filipina, Asia Butoh Gathering 2026 digelar pada awal Februari dan diinisiasi oleh Kapwa Movement bekerja sama dengan The Japan Foundation serta sejumlah institusi seni regional. Festival ini menghadirkan rangkaian kegiatan yang tidak hanya berfokus pada pertunjukan tari, tetapi juga lokakarya, diskusi budaya, pemutaran film, serta forum pertukaran gagasan antarseniman Asia .
Mengusung tema “Moving Roots, Moving Cultures”, ABG 2026 berupaya menggali akar kebudayaan Asia yang beragam melalui medium seni tubuh. Tema ini mencerminkan semangat festival untuk membaca kembali sejarah, ingatan kolektif, dan identitas budaya Asia melalui bahasa tubuh Butoh yang dikenal ekspresif, reflektif, dan sering kali menantang batas estetika konvensional .
Butoh sendiri merupakan bentuk tari kontemporer yang lahir di Jepang pada akhir 1950-an, pasca Perang Dunia II. Dikenal dengan gerak yang lambat, intens, dan sarat makna filosofis, Butoh sering mengeksplorasi tema kehidupan, kematian, trauma, alam, serta relasi manusia dengan lingkungannya. Dalam perkembangannya, Butoh tidak hanya tumbuh di Jepang, tetapi juga diadopsi dan dimaknai ulang oleh seniman di berbagai negara Asia dan dunia .
Direktur program ABG 2026 sekaligus pendiri Kapwa Movement, Sasa Cabalquinto, menyatakan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang aman dan inklusif bagi para praktisi Butoh yang selama ini kerap bekerja secara individual dan terisolasi. Menurutnya, banyak seniman Butoh di Asia belum memiliki platform kolektif untuk berdialog dan berbagi praktik.
“Butoh sering dianggap sebagai praktik yang sunyi dan terpisah-pisah. Melalui Asia Butoh Gathering, kami ingin menciptakan ruang pertemuan, dialog, dan refleksi bersama,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip media setempat .
Festival ini menghadirkan peserta dari berbagai negara dan wilayah Asia, antara lain Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Singapura, Malaysia, Indonesia, Hong Kong, dan Filipina. Kehadiran seniman lintas negara tersebut memperkaya diskursus mengenai bagaimana Butoh dimaknai dalam konteks sosial, politik, dan budaya yang berbeda-beda.
Rangkaian kegiatan ABG 2026 mencakup pertunjukan tari Butoh oleh seniman terpilih, lokakarya intensif yang dipandu koreografer dan praktisi Butoh senior, serta diskusi terbuka mengenai relasi seni tubuh dengan isu-isu kontemporer seperti identitas, spiritualitas, gender, dan ingatan kolektif. Selain itu, festival ini juga menayangkan film dokumenter dan karya visual yang menelusuri sejarah serta transformasi Butoh di Asia .
Salah satu agenda penting dalam festival ini adalah forum diskusi budaya yang mempertemukan seniman dan akademisi untuk membahas posisi Butoh dalam lanskap seni kontemporer Asia. Diskusi tersebut menyoroti bagaimana Butoh dapat menjadi medium kritik sosial, refleksi sejarah, sekaligus sarana dialog lintas budaya di tengah arus globalisasi.
Puncak acara festival ditutup dengan pertunjukan kolaboratif bertajuk Falling Earth, Moving Sky, yang menampilkan eksplorasi tema leluhur, tanah, tubuh, dan relasi manusia dengan alam. Pertunjukan ini mendapat perhatian luas karena memadukan pendekatan tradisional Butoh dengan interpretasi kontemporer dari berbagai latar budaya Asia .
Sejumlah pengamat seni menilai Asia Butoh Gathering 2026 bukan sekadar festival pertunjukan, melainkan tonggak penting dalam upaya membangun jejaring seni tubuh Asia. Festival ini dipandang mampu membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai identitas seni Asia, sekaligus memperkuat posisi seni pertunjukan sebagai medium refleksi sosial dan budaya.
Dengan digelarnya Asia Butoh Gathering 2026, Manila tidak hanya menjadi tuan rumah festival seni internasional, tetapi juga pusat pertemuan gagasan kreatif yang memperkaya wacana seni kontemporer di Asia. Ke depan, penyelenggara berharap festival ini dapat menjadi agenda rutin dan berpindah ke berbagai negara Asia sebagai bagian dari upaya memperluas ekosistem seni Butoh di kawasan . (REP)



