PemerintahanUmum

Gubernur Jatim: Halal Kini Jadi Nilai Tambah Konsumen dan Motor Ekonomi

249
×

Gubernur Jatim: Halal Kini Jadi Nilai Tambah Konsumen dan Motor Ekonomi

Share this article

GIANESIA.COMMALANG – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menorehkan prestasi dengan meraih tiga penghargaan dalam ajang UB Halal Metric Award 2026 yang digelar oleh Universitas Brawijaya di Malang, Selasa (5/5/2026).

Tiga penghargaan tersebut terdiri dari dua Gold Winner pada kategori Commitment to the Development of Halal Infrastructure 2026 dan Commitment to the Development of Halal Education 2026, serta satu Silver Winner untuk kategori Commitment to the Development of Halal Innovation, Collaboration, and Public Empowerment 2026.
Penghargaan diserahkan oleh Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal, Ahmad Haikal Hasan, kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang diwakili oleh Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak.
Dalam keterangannya, Khofifah menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, BPJPH, serta kalangan akademisi dalam membangun ekosistem halal di Jawa Timur.
“Ini juga didukung kontribusi bupati dan wali kota yang fokus pada produk halal. Kami di Jawa Timur senantiasa fokus pada ekosistem ekonomi syariah, yang salah satunya adalah produk halal,” ujarnya.
Capaian ini sekaligus menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan perolehan penghargaan terbanyak dalam ajang tersebut. Keberhasilan ini didukung penguatan ekosistem halal yang terus dikembangkan secara terstruktur dan berkelanjutan.
Berdasarkan data Pemprov Jatim, dari total 124 Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) di Indonesia, sebanyak 15 berada di Jawa Timur. Selain itu, terdapat 85 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H) dari total 393 secara nasional, serta 16.424 pendamping Proses Produk Halal (PPH) dari total 129.368 pendamping nasional.
Khofifah menegaskan bahwa penguatan ekosistem ekonomi syariah akan terus menjadi fokus, dengan produk halal sebagai salah satu pilar utama. Menurutnya, konsep halal kini tidak hanya berkaitan dengan aspek religius, tetapi juga telah menjadi nilai tambah bagi konsumen.
“Saat ini halal sudah menjadi customer value, bukan hanya soal sisi religius, tetapi ada value di dalamnya,” tegasnya.
Ia berharap penghargaan ini dapat memotivasi pelaku industri halal di Jawa Timur untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing. Dengan potensi besar yang dimiliki, termasuk banyaknya pondok pesantren, Jawa Timur dinilai mampu menjadi pusat pengembangan industri halal nasional.
“Jawa Timur dikenal sebagai provinsi dengan banyak pesantren. Oleh karena itu, pesantren juga menjadi mesin penggerak produk halal,” tambahnya.
Sementara itu, Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa halal kini telah berkembang menjadi kebutuhan global yang tidak terbatas pada aspek keagamaan.
“Halal is for everybody. Halal adalah tempat tumbuhnya ekonomi, growth economy,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa isu halal telah menjadi perhatian di berbagai negara, termasuk kawasan Asia Timur dan Eropa, serta menjadi bagian dari diskursus global. Melalui ajang UB Halal Metric Award 2026, diharapkan percepatan pengembangan industri halal nasional dapat semakin terdorong.
“Terima kasih kepada UB dan Jawa Timur yang kembali menjadi motor halal Indonesia,” pungkasnya. (LRJ)

See also  Dunia Rock Indonesia Berduka, Donny Fattah God Bless Meninggal Dunia